Harianlabuanbajo– Memperingati Hari Pendidikan Nasional (02/05/2025), Siswa/i SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo mementaskan Teater bertajuk “Nestapa di Tanah Pusaka” di Lapangan Bola SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo.
Naskah Seni pertunjukkan yang ditulis oleh Carles Deon, staf pengajar SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo itu sebagai wujud permenungan atas perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memerdekakan rakyat Indonesia melalui pendidikan.
“Teater “Nestapa di Tanah Pusaka” hadir sebagai wujud perenungan atas semangat Ki Hajar Dewantara, dengan menggambarkan dua wajah pendidikan Indonesia: masa penjajahan yang melahirkan harapan melalui cahaya pengetahuan, dan masa kini yang masih dibayangi ketimpangan, ketidakadilan, serta politisasi pendidikan,” ungkap Carles Deon

Pementasan ini terang Deon, sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar kurikulum, tetapi perjuangan untuk membebaskan dan memanusiakan.
SINOPSIS
“Nestapa di Tanah Pusaka” adalah sebuah pementasan teater dua babak yang menggambarkan potret buram pendidikan Indonesia dari masa penjajahan hingga pasca kemerdekaan. Naskah ini menyajikan perjalanan panjang perjuangan pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui perguruan Taman Siswa di tahun 1922, dan mempertanyakannya kembali dalam konteks pendidikan masa kini yang sarat kepentingan politik, ketimpangan sosial, dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemerdekaan.
Babak pertama menggambarkan idealisme Ki Hajar Dewantara yang diwakili oleh sosok Pak Guru, yang menyambut anak-anak dari berbagai latar belakang untuk belajar bersama demi memerdekakan diri dari kebodohan dan penjajahan. Ia menanamkan nilai persatuan, keberanian, dan kesetaraan. Namun, benih keraguan mulai tumbuh saat salah satu murid mempertanyakan kemungkinan adanya penjajahan baru oleh bangsa sendiri.
Babak kedua membawa penonton ke masa kini—di mana pendidikan telah modern, tetapi tersandera oleh birokrasi, pergantian kekuasaan, dan program-program populis tanpa fondasi kuat. Seorang guru modern dan murid-muridnya mengkritisi ketimpangan sosial, pelanggaran HAM, proyek gagal pemerintah, hingga makan siang gratis yang justru menyimbolkan pembungkaman dan pencitraan.
Ketika seorang politisi datang menawarkan program populis sebagai solusi, suara siswa mewakili berbagai penderitaan rakyat kecil, dan konfrontasi dengan kekuasaan berujung pada represi fisik.
Pertunjukan ditutup dengan puisi-puisi perlawanan karya Wiji Thukul dan lagu-lagu bernuansa protes serta kesedihan, menyuarakan bahwa kebebasan sejati belum benar-benar tercapai. Dalam dunia yang katanya sudah merdeka, rakyat masih terluka, pendidikan terkooptasi, dan perjuangan belum selesai.
SIMBOL
1) Obor dan Lilin
• Simbol: Cahaya yang dihasilkan oleh obor dan lilin menggambarkan harapan, pengetahuan, dan perjuangan untuk meraih kemerdekaan dan kebebasan. Dalam konteks sejarah, obor sering kali digunakan untuk melambangkan penyuluhan atau pencerahan.
• Makna: Cahaya ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci untuk merdeka dari belenggu penjajahan, baik penjajahan fisik oleh bangsa asing maupun penjajahan mental dan kebodohan. Obor yang dinyalakan oleh Pak Guru (Ki Hajar Dewantara) merupakan simbol semangat revolusi dalam bentuk pendidikan.













