Harianlabuanbajo– Tim Idensos Satgaswil NTT Densus 88 Anti Teror Polri gandeng Eks Napiter asal Elar pada giat Silaturahmi bertema ‘Perkokoh Persatuan dan Kebhinekaan Wujudkan Masyarakat Tangguh Terhadap Dampak Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme’ di SMAN 1 Elar, Manggarai Timur pada Sabtu(15/11/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri Para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, hingga siswa-siswi SMA di Kecamatan Elar.
Camat Elar, Ponsianus Darusman, S.ST., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada Tim Densus 88 yang meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi pengetahuan.
“Terima kasih atas kehadiran Densus 88 yang telah meluangkan waktu berbagi ilmu guna meningkatkan ketahanan diri remaja dari paparan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” ujarnya.
Ia meminta para peserta meneruskan pengetahuan itu di lingkungannya masing-masing.
“Saya berharap berbagai materi yang dipaparkan harus diwartakan oleh para peserta.”
Sementara itu, Kepala Pos Polisi Kecamatan Elar, Briptu Lalu Sukiman, menyatakan bahwa situasi keamanan wilayah tersebut masih kondusif.
“Situasi Kamtibmas di Elar masih terpantau aman dan kondusif,” ucapnya singkat.
Suasana ruangan kemudian seketika hening ketika Yanto, mantan narapidana terorisme, diminta membagikan kisah yang pernah membawanya masuk ke jaringan radikal.
Sebelumnya, Koordinator Tim Idensos Satgaswil NTT Densus 88, IPTU Silvester Guntur, memperkenalkan Yanto dengan lugas.
“Saudara kita Yanto pernah berurusan dengan Densus 88 dalam kasus tindak pidana terorisme. Saat ini kami pastikan ia sudah berubah dan kembali bersama kita,” katanya.
Yanto pun mulai berbicara. Dengan suara tenang ia menuturkan awal keterlibatannya.
“Hari ini saya berada di hadapan bapak ibu untuk berbagi pengalaman, bagaimana saya bergelut dalam organisasi terorisme hingga akhirnya menjadi pelaku,” ujarnya.
Yanto mengaku direkrut Jamaah Islamiyah (JI) pada 2014, mengikuti pendidikan ideologi dan militer pada 2015, hingga akhirnya ditangkap pada 2019.
“Saya harus bersyukur karena ditangkap. Kalau saya tidak diamankan Densus 88, mungkin saat ini saya sudah berada di Afganistan atau Suriah,” tuturnya, disambut tawa ringan peserta.
Selama menjalani hukuman, ia dipindahkan ke beberapa lapas dan dipertemukan dengan banyak tokoh agama moderat yang mengubah cara pandangnya. Buku-buku menjadi jendela yang membawanya keluar dari penafsiran agama yang sempit.
“Dulu cara pandang saya eksklusif. Di luar keyakinan saya, tidak ada yang benar,” akunya.
Yanto pun membeberkan faktor-faktor yang sering dimanfaatkan kelompok radikal; Kesenjangan ekonomi, instabilitas politik, dan emosi keagamaan yang mudah diprovokasi. Ia mencontohkan aksi 212 di Jakarta sebagai momen yang rawan ditunggangi kepentingan ideologis radikal.
“Kejadian 212 dimanfaatkan untuk memanas-manaskan situasi. Jika terjadi kekacauan, itu bisa dipakai untuk memuluskan misi ideologis,” ungkapnya.













