Selama ini, keterbatasan anggaran sering kali menghambat perbaikan akses jalan. Namun, dengan menjadikan Golo Riwu sebagai pusat produksi porang nasional, urgensi pembangunan jalan akan meningkat secara otomatis.
“Volume panen yang besar akan mengubah status jalan desa menjadi jalur logistik strategis yang wajib diperhatikan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi,” beber Edo
Selain sentil Jalur Logistik, Edo juga menyentil daya dawar anggaran. Menurutnya Data produksi porang yang nyata akan menjadi senjata ampuh bagi desa dalam melobi anggaran pembangunan jalan di tingkat yang lebih tinggi.
Dengan demikian, masuknya investor melalui program ini membuka peluang skema kerjasama atau CSR untuk pemeliharaan akses jalan utama.
Edo Mense optimis bahwa jika aspek SDA (Porang) dan SDM sudah kokoh, maka hal tersebut akan menjadi pemicu (trigger) bagi keberhasilan program-program desa lainnya. Golo Riwu ingin membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi sejati untuk menjemput pembangunan fisik yang berkelanjutan.
“Jika ekonomi warga sudah mandiri dan desa kita menjadi pusat perhatian investor karena porang, maka infrastruktur jalan bukan lagi sekadar impian, melainkan kebutuhan logistik yang harus dipenuhi oleh negara,” pungkasnya optimis.













