Menu

Mode Gelap
 

Pariwisata · 18 Okt 2023

Ketua ASKAWI Mabar Soroti Ketersediaan Sarpras di Kawasan TNK


 Pulau Padar Labuan Bajo.(Ist) Perbesar

Pulau Padar Labuan Bajo.(Ist)

HarianlabuanbajoKetua Asosiasi Kapal Wisata Kabupaten Manggarai Barat, Ahyar Abadi menyoroti minimnya ketersediaan sarana prasarana di Kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kata Ahyar, ketersediaan sarana prasarana di Kawasan Taman Nasional Komodo tidak seimbang dengan tingkat kunjungan wisatawan yang semakin meningkat per tahun.

“Artinya dengan kepadatan aktivitas wisata ini maka pemerintah pusat maupun daerah untuk bekerja sama dengan BTNK untuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang digunakan oleh wisatawan misalnya WC di pulau padar itu cuma ada tiga,” katanya.

Ia menegaskan , sarana Prasarana yang mumpuni mesti dibangun di beberapa spot Pariwisata: Pulau Padar dan Pulau Komodo. Apalagi kata dia, jumlah kunjungan ke spot wisata tersebut sangat tinggi per tahun.

Selain hal yang disebutkan di atas, Ahyar juga menyoroti soal ketersediaan  mooring di wilayah laut sangat terbatas.

“Kemudian untuk wilayah laut harus perbanyak persediaan mooring dibeberapa tempat wisata atau yang sudah masuk dalam kawasan TNK,” katanya.

Selain Ahyar, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies/ASITA) Manggarai Raya Evodius Gonsomer juga menyoroti kondisi bawah laut dalam Kawasan yang tidak diperhatikan.

Dia mengatakan meski tujuan awal penataan TNK adalah untuk konservasi namun lantaran pengelolaan Taman Nasional Komodo tidak dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang konservasi, hal ini mengakibatkan sejumlah hal penting luput dari pengawasan.

“Bagaimana dia mau buat konservasi kalau tidak punya keahlian di bidang itu, apa yang dia sudah buat, yang ada hanya kawal tamu itu, itu saja. Nah konservasinya kita belum tau mana yang sudah dia lakukan,” katanya.

Padahal kawasan TNK kata dia sudah sangat mendesak untuk dilakukan konservasi, salah satunya yakni perbaikan terumbu karang, karena 95 persen wisatawan asing itu datang untuk diving. Ia menyebut, ASITA telah menerima banyak keluhan wisatawan terkait kondisi terumbu karang yang rusak.

Ia juga mengkritisi kontribusi BTNK  apakah Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) soal rehabilitasi terumbu karang yang sudah rusak oleh jangkar kapal maupun pemboman.

Selain menyasar ke BTNK, kinerja PT Flobamor juga dipertanyakan. Menurutnya, kinerja PT Flobamor tidak tampak dalam upaya konservasi kawasan TNK. Ia menyebut belum melihat hasil kerjasama yang nyata dari BTNK dan PT Flobamor terkait konservasi,selain terkait  Naturalis guide.

“Inikan apa yg dilakukan oleh TNC (The Nature Conservacy) itu dulu, itu saja belum maksimal karena butuh waktu yg sangat panjang dan biaya yang sangat besar, Flobamora kerjasama dengan BTNK apa yang sudah dilakukan? Kalau memang sudah melakukan sesuatu untuk konservasi itu, coba ditunjukan,” katanya.

Senada dengan Ketua ASITA, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT, Viktor Pance yang mengungkapkan bahwa secara umum konservasi sudah dikukuhkan secara aturan melalui Undang-Undang oleh pemerintah pusat.

Namun dalam pelaksanaan sangat mudah ditemukan beberapa kendala-kendala, seperti ada beberapa kawasan yang sudah dikapling atau dibebaskan dari zona konservasi untuk dijadikan kawasan pengelolaan.

Kondisi ini mengakibatkan ruang gerak penduduk lokal dalam kawasan yang bermata pencaharian sebagai nelayan menjadi sempit.

“Beruntung para nelayan di Pulau Komodo sudah dilatih dan dibina untuk menjadi kader konservasi. Mereka mencari ikan menggunakan pola ramah lingkungan,” tuturnya.

HinggaJuli 2023, jumlah kunjungan ke Taman Nasional Komodo berdasarkan data Balai Taman Nasional Komodo sudah mencapai 122.101 orang. Jumlah ini diharapkan mampu melampaui jumlah kunjungan di tahun 2022 dengan total kunjungan mencapai 182.676 kunjungan baik wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

Menjadi kawasan destinasi favorit para wisatawan, pengelolaan Taman Nasional Komodo diharapkan tetap mengedepankan upaya upaya konservasi alam dan lingkungan yang nyata. Selain habitat Komodo, TN Komodo juga memiliki dunia bawah laut yang terbaik di dunia yang harus dirawat, dijaga serta dilestarikan.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 30 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Permudah Hitung Kunjungan Wisatawan, BTNK Akan Gunakan  Aplikasi Si Ora

20 Desember 2023 - 14:30

Sejumlah Asosiasi Wisata Tanggapi Rencana Perubahan Tarif Jasa Pemandu di TNK

16 Desember 2023 - 13:45

Golo Mori Convention Center, Magnet Baru Pariwisata di Indonesia Timur

6 Desember 2023 - 16:12

Tingkatkan Pelayanan di TNK, PT Flobamor Berdayakan Masyarakat Lokal

1 Desember 2023 - 15:34

Tunjang Pariwisata Labuan Bajo, PT Flobamor Terus Melakukan Perbaikan Sarpras di Kawasan TNK

27 November 2023 - 15:23

PT Flobamor Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan dan Sarpras TNK

23 November 2023 - 17:25

Trending di Daerah