Harianlabuanbajo – Pengamat militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan pentingnya ada pihak penyeimbang dalam sebuah negara. Hal ini disampaikannya merespons kabar pertemuan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri dan Presiden Prabowo Subianto.
Penyeimbang yang dimaksud Connie adalah pihak yang berani berpikir berbeda atau berani mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintah yang salah.
“Kalau negara tidak ada penyeimbang, dalam arti tidak ada yang berani berpikir berbeda atau tidak berani mengoreksi apa yang salah pada kebijakan-kebijakan pemimpin yang sedang memimpin, negara kita dalam keadaan bahaya,” katanya, dalam diskusi publik Peran Gerakan Mahasiswa Dalam Menjaga Persatuan Nasional di Tengah Perang Dagang AS-China via daring, Selasa (8/4).
Connie mengingatkan, tidak benar jika negara berjalan tanpa pihak penyeimbang.
“Saya harap pertemuan itu, kalau ada memang terjadi adalah Pak Prabowo dan Ibu Mega adalah bagaimana Pak Prabowo bisa tetap menempatkan Ibu Mega sebagai penyeimbang dalam konstelasi yang terjadi di Indonesia saat ini,” harapnya.
Connie mengaku sempat mengusahakan pertemuan mantan Presiden RI ke-5 itu dengan Prabowo, namun urung terjadi.
“Tapi alhamdulillah terwujud kemarin, katanya, tapi saya sedang di sini, dan saya belum mendapatkan kabar apakah itu A1, betulkah terjadi pertemuan. Yang kedua saya juga belum mendapatkan kabar apa saja isi materi pertemuan,” kata dia.
Sebagai informasi, Prabowo dikabarkan bertemu dengan Megawati di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/4) malam. Pertemuan itu berlangsung tertutup selama satu jam.
Dalam pemaparannya di diskusi publik yang dilaksanakan oleh Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia DPC Jakarta Selatan PROF.CONNIE RAHAKUNDINI “Menegaskan agar kita bisa Mendorong Kesadaran dan Literasi Geo-Politik, serta Anak muda harus bisa menyebarkan pemahaman tentang politik global melalui media sosial, forum kampus, dan komunitas ungkap Connie.
Semakin paham publik, semakin akan terkendali pemerintah untuk mengambil kebijakan impulsif yang berisiko.
Aktif dalam Demokrasi dan Advokasi Kebijakan
Sebagai Generasi Muda Kita Harus “Dorong pemerintah untuk mengambil posisi netral aktif, memperkuat diplomasi damai dan kerja sama regional (ASEAN, BRICS, GEP)”. Tekan kebijakan luar negeri agar berpihak pada perdamaian, bukan pada kepentingan blok kekuatan besar.
Peran Strategis Generasi Muda 1 Membangun Ketahanan Sosial dan Ekonomi Lokal
Wirausaha muda, inovasi teknologi lokal, dan ketahanan pangan bisa jadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan luar negeri. Kampanye konsumsi produk lokal dan ekonomi berkelanjutan juga bagian dari ketahanan nasional.
Connie berharap agar anak muda “Menjadi Diplomat Muda dan Pemikir Strategis Lewat organisasi, riset, dan partisipasi di forum internasional (Model UN, ASEAN Youth Dialogue, G20 Youth), anak muda bisa membawa suara negaranya secara aktif dalam percaturan global,” tandasnya.
Peran Strategis Generasi Muda 2 Peran Gerakan Neo NAM dan Generasi Muda
Connie Mengingatkan “Tekanan diplomatik ekstrem untuk berpihak akan mengancam stabilitas domestik maka Neo-NAM dan generasi muda harus siap menciptakan jaringan kerja sama regional sebagai tameng solidaritas dan perlindungan mutual.
Dikatakannya, saat kekuatan global terlibat dalam tatanan dunia yang baru, Gerakan Non-Blok (Neo-NAM) akan menjadi semakin penting dalam mengadvokasi perdamaian dan tatanan dunia multipolar.
Neo-NAM akan mampu berperan sebagai mediator diplomatik, dengan generasi muda yang mendorong upaya perdamaian, menekankan pelucutan senjata, dan mendorong struktur pemerintahan global yang lebih inklusif.
Hal ini bisa melibatkan peluncuran inisiatif baru dalam kerja sama Selatan-Selatan, upaya kemanusiaan, dan pakta internasional baru yang menyeimbangkan kekuatan- kekuatan yang mendorong konflik bebernya.
Peran Gerakan Generasi Muda Bersatu
Connie menegaskan, generasi muda di negara-negara berkembang harus membentuk koalisi untuk mengakses dan mengatur perkembangan Al, energi bersih, dan keamanan siber secara kolektif tanpa tergantung pada monopoli teknologi Barat maupun Timur.
Dirinya berharap agar Generasi muda harus dapat Bersatu, guna mendorong negara-negara ASEAN, BRICS, AU (Uni Afrika), GEP dan MERCOSUR dapat menciptakan sistem perdagangan regional yang lebih mandiri untuk mengurangi dampak tarif dan embargo global, seperti yang dipicu oleh kebijakan AS atau konflik besar.
“Generasi muda Asia dan Afrika harus dilibatkan aktif dalam forum diplomatik lintas kawasan sebagai suara perdamaian dan keadilan global. Program seperti Youth NAM Forum, BRICS Youth Parliament, dan ASEAN Future Leaders bisa menjadi platform penting,” pungkasnya. (D.Wahyudi)













