Guna memastikan tidak menjamurnya travel agen liar, ASITA sudah mendesak Pemda Kabupaten Manggarai Barat agar menertibkan travel agen yang tidak jelas keberadaanya.
“Tapi yang namanya online ini kan agak susah, tetapi lambat laun pengunjung akan tahu, karena mereka jualnya murah, tapi yang kita amati itu, banyak situasi dimana wisatawan mendapati lain kapal yang dijual, lain yang ada di lapangan,” ujar dia.
ASITA jelas dia, dapat harga khusus baik dari kapal-kapal maupun hotel dan restaurant.
“Nah kalau orang jual dibawah itu jadi tanda tanya,” katanya.
Ia juga mengimbau agar semua tamu tidak menggunakan travel agent yang tidak berkantor di Labuan Bajo.
“Karena kalau ada apa apa dia mau komplain ke siapa. Kalau melalui ASITA, ASITA itu bertanggungjawab secara organisasi apabila ada wisatawan yang ditelantarkan oleh anggota ASITA yang tercatat di Labuan Bajo dia bisa mengadu,” katanya.
Selain manajemen kepariwisataan, menurutnya, perlu diperhatikan juga kebersihan dan kenyamanan wisatawan saat berada di Labuan Bajo.
“Lihat waterfront sekarang itu kotor, entah siapa yang berhak mengelola kita juga tidak tau. Tidak enak dipandang. Di waterfront itu masih ada kapal bongkar muat, sangat menganggu wisatawan, menurut kita itu harus dipindahkan ke Menjerite,” tutupnya.
Tak hanya di kota Labuan Bajo, keluhan terkait kebersihan khususnya masalah sampah juga masih menjadi isu utama yang sering di keluhkan para wisatawan, khususnya saat melintasi beberapa dermaga masuk spot wisata seperti dermaga Pulau Padar, pulau Komodo, hingga sejumlah spot snorkeling dan diving.













