Tahapan penanaman nilai radikal, kata Silvester, selain dimulai dari sebuah upaya menanamkan kecintaan, lalu berlanjut pada ketaatan.
“Jika sudah taat maka jiwa dan raganya sudah menjadi milik mereka,”ungkapnya.
Lebih jauh IPTU Silvester, memaparkan berbagai sarana yang digunakan kelompok radikal dalam menyebarkan pahamnya. Ia mengatakan seiring perkembangan teknologi , sarana penyebaran paham radikal ini pun ikut berkembang.
“Kalau dulu melalui kajian keagamaan, sisipan materi pelajaran disekolah, dakwah buletin dan radio. Namun untuk saat ini, mereka platform media sosial, bahkan melalui game-game, seperti free fire, Roblox dan game lainnya.”ucapnya.
Melalui game, kata Silvester, seringkali dijadikan pintu masuk untuk melakukan pendekatan dan konsolidasi awal.
“Dari sering bermain game bersama, kemudian dibuatkan komunitas melalui group WhatsApp, telegram maupun media lainnya intinya sebagai sarana untuk intens berdiskusi terkait game, lama kelamaan kemudian, pelan-pelan indoktrinasi, kemudian dicuci otaknya dan direkrut dan menjadi pelaku teror”
Menutupi pemaparannya, Silvester mengingatkan bahwa terorisme tidak merujuk pada satu agama tertentu saja, setiap penganut agama berpotensi menjadi seorang teroris.
Sesi diskusi berlangsung hangat. Pastor Teri, SVD mengungkap kegelisahannya terhadap kebiasaan pesta mabuk di kalangan muda dan berharap Densus 88 dapat memfasilitasi edukasi karakter bagi remaja. Silvester menjawab terbuka:
“Apabila diundang untuk memberikan edukasi, kami sangat siap dalam waktu 1×24 jam.
Sementara itu, tokoh masyarakat Romanus Rasi turut mengapresiasi atas pemulihan Yanto.
“Pak Yanto ini anak yang hilang dan sudah kembali. Negara harus memberi apresiasi,” ucapnya.
Beberapa pertanyaan dari peserta kemudian menyusul. Rafel, perwakilan guru SMAN 1 Elar bertanya tentang bagaimana Yanto direkrut dan cara mencegah siswa agar tak terpapar.
Yanto menjawab, “Saya bergabung dengan kelompok teror JI pada tahun 2013 sejak kuliah. Awalnya ada teman saya yang sudah terpapar yang mengajak saya diskusi tentang pandangan kita terhadap negara yang bertentangan dengan tujuan islam.”
“Sedangkan cara kita agar anak-anak tidak terpapar ialah dengan mendidik mereka dengan baik, penguatan nilai adat istiadat, penanaman nilai-nilai toleransi dan perkuat rasa nasionalis anak-anak. Kita juga dapat meningkatkan moderasi beragama.”
Adrianus dari SMAN 6 Elar, bertanya apakah terorisme efektif sebagai alat politik. Yanto menjawab, “Semua tujuan terorisme salah satu akhirnya adalah tujuan politik. Apabila tidak dapat mengganti sistem demokrasi, maka kekerasan yang kami pakai menurut pandangan kami dulu.”
Elisabeth Jelita dari SMAN 1 Elar menanyakan mengapa orang berpendidikan tetap mudah terpengaruh. Yanto menjawab, “Semuanya karena narasi yang dibuat oleh perekrut dilakukan sebaik mungkin untuk menarik minat orang menggunakan cara-cara dan celah kelemahan sasaran orang yang mau direkrut baik keadaan ekonomi maupun kondisi psikologis.”
Sementara Windi, juga dari SMAN 1 Elar, menanyakan bagaimana siswa dapat menyadari pola rekrutmen melalui game online. Silvester menjawab, “Dibuat narasi kebencian merupakan situasi yang paling dasar, kemudian membuat tawaran untuk melakukan kekerasan hingga diajak untuk membentuk komunitas melalui grup-grup platform online.”
Menutup kegiatan, Camat Ponsianus kembali mengajak semua pihak menjaga kehidupan sosial yang rukun.
“Kami bersyukur saudara Yanto telah kembali dan dapat membantu kita semua menjaga Elar ini. Harapannya kita tangguh terhadap dampak intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” ujarnya.













