“Saat musim hujan tiba dengan debit air tinggi serta banjir , Siswa SMKN 1 Boleng memilih untuk tinggal di rumah karena tidak bisa menyebrangi arus sungai Wae Hento,” ungkap salah seorang pengajar di SMKN 1 Boleng
Ia menerangkan, 99 persen siswa SMKN 1 Boleng berasal dari Kampung Hento. Oleh sebab itu, ketersediaan infrastruktur/jembatan permanen mesti diperhatikan oleh otoritas setempat.
Bangun Jembatan Darurat sebagai Akses Alternatif
Ketimpangan akses infrastruktur pendidikan yang dialami oleh siswa SMKN 1 Boleng tidak dibiarkan berkepanjangan oleh warga sekitar meskipun dengan cara sederhana dan alternatif.













