Pada pukul 15:30 WITA, keduanya menuruni bukit menuju titik tanah milik Bonifasius. Perjalanan kaki memakan waktu sekitar 30 menit akibat kontur tanah yang curam dan tertutup padang ilalang tinggi, yang cukup menguras tenaga dan waktu.
Pada sore hari, di lokasi tersebut, hanya terdapat Serka LMFP dan Bonifasius Oldam. Tidak ada aktivitas warga lain maupun permukiman penduduk di area Batu Gosok yang terpencil tersebut.
Momen Perekaman Video Sebagai Bukti Pendukung Lokus Foto
Foto viral di media massa itu bersamaan dengan momentum perekaman video oleh Bonefasius Oldam berdurasi 35 detik direkam menggunakan ponsel milik Bonifasius Oldam dan oleh Bonifasius sendiri. Dalam video, Serka LMFP menjelaskan arah mata angin dan estimasi luas tanah (200m x 100m = 2 hektar) berdasarkan data yang sebelumnya disampaikan Bonifasius saat perjalanan.
Serka LMFP mengaku bahwa dirinya hanya menemani pengecekan batas tanah di lokasi tak berpenghuni. Senjata (Pistol FN) ditenteng murni karena alasan keamanan agar tidak jatuh saat menaiki tebing miring, bukan untuk intimidasi.
Lokasi kejadian adalah Batu Gosok, berjarak ±6 km dari Bukit Karanga. Framing media mengaitkan dua lokasi berbeda yang tidak berhubungan.
Konteks Senjata Api (Pistol FN)
Mengenai keberadaan senjata api jenis pistol FN yang terlihat dalam video, perlu dipahami konteks medannya. Saat itu, SLMFP dan Bonifasius berada di sisi timur tanah dengan kontur yang sangat miring dan menanjak.
Senjata yang semula diselipkan di pinggang terpaksa dikeluarkan dan ditenteng demi faktor keamanan (safety).
Mengingat medan yang sulit, membiarkan senjata di pinggang berisiko menyebabkan senjata terjatuh atau terbentur.
Tindakan menenteng senjata tersebut dilakukan saat bergerak dari sisi barat ke timur yang menanjak, semata-mata untuk mengamankan inventaris negara, bukan sebagai bentuk ancaman.
Menutup keterangannya, Letkol Inf Budiman Manurung kembali menegaskan komitmen TNI untuk bekerja demi rakyat.













