Sementara, Kata Sandi, kemiskinan secara global data BPS mencatat justru dari 17,92 % menjadi 17,15%.
Sehingga kemiskinan ekstrem yang pakai garisnya adalah Rp358 ribu atau pengeluaran pendapatan per kapita satu hari US$ 1,99 masih dibawah Rp405 ribu garis kemiskinan versi BPS.
“Nah, posisi garis kemiskinan ekstrem itu adalah yang paling bawah, orang-orang yang memang butuh sekali untuk ditingkatkan, dibantu supaya meringankan beban hidupnya, jawabnya apa, adalah orang yang hidupnya sendiri atau Lansia, orang Difabel yang kemungikan tidak bisa bekerja,” katanya.
Ia menambahkan, untuk mengukur kemiskinan BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (needs approach).
Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan non makanan).***













