“Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, kita harus mendorong impact investment dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Hal ini perlu didukung oleh kebijakan yang bisa menarik minat investor untuk berinvestasi yang memberikan dampak berkelanjutan pada masyarakat sekitar, lingkungan dan juga bisnis. Misalnya, melalui penerapan kebijakan pajak progresif yang berkeadilan atau insentif lainya bagi inisiatif restoratif dan berkelanjutan.”ujat Arsjad
Lanjut Arsjad, IID dirancang sebagai wadah untuk menghubungkan penggerak dampak (impact drivers), seperti perusahaan sosial, organisasi komunitas, dan LSM, dengan pendukung dampak (impact enablers), termasuk investor, donor, dan organisasi filantropi. Melalui IID, Kadin Indonesia bersama YBLL sekaligus menyorotkan sejumlah inisiatif dan kolaborasi inisiatif restorasi dan keberlanjutan, khususnya di daerah-daerah terluar dan terdepan, dengan penekanan khusus pada potensi yang belum dimanfaatkan di Indonesia Timur.
Senada dengan Arsjad, Kepala Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Kadin Indonesia dan Dewan Pengarah IID, Bambang Brodjonegoro mengatakan, “Melalui Impact Investment Day, kami mengajak dunia usaha untuk melihat melampaui kepatuhan dan merangkul ESG sebagai katalis inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan. Ini bukan lagi tentang memenuhi standar minimum, tetapi tentang memimpin perubahan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi bisnis, masyarakat, dan planet tempat kita hidup.”
Monica Tanuhandaru, Chairperson YBLL menambahkan, pengalaman YBLL dengan bambu telah sangat mempengaruhi pendekatan IID. “Dalam IID, kami menerapkan pembelajaran ini dengan memprioritaskan proyek-proyek yang memanfaatkan potensi alam lokal NTT, menekankan rantai nilai terintegrasi, dan fokus pada pembangunan kapasitas masyarakat serta penciptaan pasar untuk produk berkelanjutan. Pendekatan holistik ini menjadi blueprint bagi IID dalam memberdayakan impact driver dan menghubungkan mereka dengan pasar yang lebih luas melalui impact enabler.”
Diketahui, Pembukaan IID secara resmi dilakukan dengan pemukulan kentongan secara bersama-sama oleh Monica Tanuhandaru (YBLL), Yugi Prayanto (KADIN), Petrus A Rasyid (Pemkab Manggarai Barat), Ari Sudijanto (Kepala Badan Standardisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Joko Tri Haryanto (Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup), serta Vivi Yulaswati (Deputi Kemaritiman & SDA, Bappenas).













