Selain Ahyar, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies/ASITA) Manggarai Raya Evodius Gonsomer juga menyoroti kondisi bawah laut dalam Kawasan yang tidak diperhatikan.
Dia mengatakan meski tujuan awal penataan TNK adalah untuk konservasi namun lantaran pengelolaan Taman Nasional Komodo tidak dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang konservasi, hal ini mengakibatkan sejumlah hal penting luput dari pengawasan.
“Bagaimana dia mau buat konservasi kalau tidak punya keahlian di bidang itu, apa yang dia sudah buat, yang ada hanya kawal tamu itu, itu saja. Nah konservasinya kita belum tau mana yang sudah dia lakukan,” katanya.
Padahal kawasan TNK kata dia sudah sangat mendesak untuk dilakukan konservasi, salah satunya yakni perbaikan terumbu karang, karena 95 persen wisatawan asing itu datang untuk diving. Ia menyebut, ASITA telah menerima banyak keluhan wisatawan terkait kondisi terumbu karang yang rusak.
Ia juga mengkritisi kontribusi BTNK apakah Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) soal rehabilitasi terumbu karang yang sudah rusak oleh jangkar kapal maupun pemboman.
Selain menyasar ke BTNK, kinerja PT Flobamor juga dipertanyakan. Menurutnya, kinerja PT Flobamor tidak tampak dalam upaya konservasi kawasan TNK. Ia menyebut belum melihat hasil kerjasama yang nyata dari BTNK dan PT Flobamor terkait konservasi,selain terkait Naturalis guide.













