Menu

Mode Gelap
 

Hukum · 31 Agu 2023

Laporan Pemalsuan Dokumen Tanah  Mengendap di Polres Mabar


 Mako Polres Mabar.(Ist) Perbesar

Mako Polres Mabar.(Ist)

Harianlabuanbajo- Kepolisian resort Manggarai Barat diduga mengabaikan laporan pemalsuan dokumen persetujuan penerbitan sertifikat tanah milik ayah kandung Suandi Ibrahim (Alam. Ibrahim Hanta) warga Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat yang diduga dilakukan oleh terduga YBS sebagai kuasa hukum dari Niko Naput.

Laporan nomor LP/B/240/IX/2022 diajukan  Suandi Ibrahim terkait dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen persetujuan penerbitan sertifikat tanah warisan milik ayah kandung Suandi Ibrahim (Alm.Ibrahim Hanta) yang diduga dilakukan oleh YBS.

Pasalnya, Kasus  dugaan pemalsuan tanda tangan kesepakatan dokumen penerbitan sertifikat tanah dilakukan oleh pihak Niko Naput dilakukan pada tanah  2019 lalu, dimana dalam dokumen tersebut terdapat tanda tangan Ibrahim Hanta yang diketahui telah meninggal tahun 1986.

Mikael Mansen, keluarga penerima kuasa dari keluarga Ibrahim Hanta mengatakan,Suwandi Ibrahim melaporkan kepada pihak kepolisian pada 13 september 2022, namun hingga saat ini pihak kepolisian belum memberikan hasil dari laporan yang sudah berjalan satu tahun. Mikael menilai, pihak kepolisian Polres Mabar tidak melakukan tugasnya sebagai aparat penegak hukum pelindung masyarakat dan pengayom masyarakat.

Mikael menceritakan, lahan seluas 11 ha, berdampingan dengan Bukit Keranga di Labuan Bajo, terhampar sebagiannya berupa padang datar ke arah bibir pantai, dan sebagiannya terbentang hingga jalan raya jalur dari Labuan Bajo menuju Batu Gosok, adalah tanah milik seorang TNI Suwandi Ibrahim. Tanah tersebut merupakan warisan yang diperoleh dari almarhum Ibrahim Hanta, ayah Suwandi Ibrahim.

Sementara itu, Melangsir Okeflores.com, ketika dikonfirmasi Kapolres Manggarai Barat Ari Satmoko saat dihubungi menyampaikan sedang berada di luar kota.

“Bisa ke kasat reskrim ya, saya ada kegiatan di Kupang,” tulisnya melalui pesan WA yang Rabu (30/08/2024).

Untuk diketahui, berdasarkan penuturan Suwandi Ibrahim dan beberapa orang tua di Waemata, Ibrahim Hanta mendapatkan tanah tersebut dari Penguasa Ulayat Labuan Bajo, dan sudah menggarap tanah tersebut sejak tahun 1973.

Di tempat tersebut, ia membangun pondok untuk tinggal, menanam nangka, kelapa, serta pohon jati, juga memelihara hewan seperti kerbau dan sapi, bahkan di tempat tersebut istrinya hamil dan lahirlah seorang putra bernama Suwandi Ibrahim, putra bungsu mereka.

Ketika Ibrahim Hanta makin tua, ia kembali ke rumah utamanya di Waemata, kota Labuan Bajo dan meninggal pada 14 Maret tahun 1986. Di Lengkong Keranga, sampai tahun 2019, pondok orang tua mereka yang terbuat dari kayu masih tampak terlihat, walau tinggal kerangka karena sudah lama tak dihuni, sementara pohon kelapa dan jati masih tetap ada hingga hari ini.

Saat tamat SMA, Suwandi Ibrahim menjadi anggota TNI AD. Pernah bertugas di Timor Timur sewaktu menjadi salah satu Propinsi Indonesia, dan setelah Timor Leste menjadi Negara tersendiri, ia kembali, bertugas di Bali. Setelah itu balik bertugas di Labuan Bajo, lalu ke Malaka di Timor dan kini balik lagi ke Labuan Bajo.

Sewaktu Suwandi Ibrahim bertugas di luar Manggarai Barat, karena kakak laki-lakinya saat itu mulai sakit-sakitan, atas persetujuan keluarga besar di Labuan Bajo, penjagaan tanah seluas 11 ha itu dipercayakan kepada salah satu anggota keluarga dekat mereka, yaitu Mikael Mensen.

Mikael Mensen Dan anggota keluarga secara rutin datang untuk membersihkan lahan itu, serta membangun 2 (dua) pondok kecil sebagai tempat berteduh.

Lalu pada tahun 2019 Suwandi & keluarga (bersama Mikael Mensen) ingin membuat dokumen atas kepemilikan tanah tersebut,  mereka pun mengajukan proses administrasi untuk pensertifikatannya ke kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional) di Labuan Bajo. BPN pun  turun ke lokasi  melakukan pengukuran dan pembuatan peta bidang.

Ketika akan berlanjut pada proses administrasi berikutnya, betapa terkejutnya mereka, ternyata dalam catatan  administrasi  BPN,  sebagian tanah tersebut, di bagian rata sampai bibir pantai sudah bersertifikat hak milik atas nama orang lain, yaitu atas nama Niko Naput dan istrinya. Sisanya di bagian lereng hingga jalan raya, juga sedang dalam proses pembuatan peta bidang atas nama anak-anak Niko Naput dan entah atas nama ponakannya juga.

Suwandi dan Mikael Mensen serta seluruh keluarga berang! Semuanya ditumpahkan pada saat sidang mediasi di kantor BPN bersama Kuasa Hukum keluarga Niko Naput, dan melakukan demo ke kantor BPN, Kantor Polisi, Kejari dan kantor Bupati dengan seruan utamanya adalah ” basmi tuntas mafia tanah di Labuan Bajo dan bersihkan BPN dari sarang oknum mafia tanah”.

Atas peristiwa pensertifikatan tanah atas nama Niko Naput dan keluarganya itu, Suwandi Ibrahim melaporkan ke Polisi, terdaftar dengan No. LP/B/240/IX/2022, pemalsuan tanda tangan dan penipuan.

 

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 130 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Batching Plant PT WGP di Manjerite Diduga Tidak Mengantongi Izin Produksi

19 April 2024 - 09:05

Padma Indonesia Minta APH Segera Tetapkan Lorens Logam Jadi Tersangka

18 April 2024 - 08:30

KPK Bantah Adanya Isu Penggeledahan Hotel Loccal Collection

9 November 2023 - 19:17

Kasus Pengeroyokan di Bajo Booze, Kuasa Hukum Korban: Polres Mabar Sudah Terbitkan SP2HP

3 November 2023 - 19:24

PT KNM Babat dan Timbun Kawasan Bakau di Labuan Bajo, Polres Mabar Akan Lakukan Penyelidikan

29 September 2023 - 20:13

PT KNM Babat dan Timbun Kawasan Bakau di Labuan Bajo

26 September 2023 - 10:19

Trending di Hukum